Manajemen kinerja (MK) adalah aktivitas untuk memastikan bahwa
sasaran organisasi telah dicapai secara konsisten dalam
cara-cara yang efektif dan efisien. Manajemen kienrja bisa berfokus pada
kinerja dari suatu organisasi, departemen,karyawan, atau bahkan
proses untuk menghasilkan produk atau layanan, dan juga di area yang lain.
Baik di tingkatan organisasi ataupun
individu, salah satu fungsi kunci dari manajemen adalah mengukur dan mengelola
kinerja. Antara gagasan, tindakan dan hasil terdapat suatu perjalanan yang
harus ditempuh. Dan barangkali istilah yang paling sering digunakan di
keseharian yang menggambarkan perkembangan dari perjalanan tersebut dan juga
hasilnya adalah "kinerja" (Brudan 2010).
Makna dan isi dari istilah
kinerja secara komprehensif didiskusikan oleh Folan et al (2007), yang menegaskan tiga prioritas dari kinerja:
Pertama, kinerja butuh
dianalisa berdasarkan setiap entitas di dalam lingkup lingkungan di mana dia
beroperasi. Sebagai contoh kinerja suatu perusahaan harusnya dianalisis di
lingkup target pasar di mana dia beroperasi dan bukannya yang tidak relevan
dengan wilayah operasinya.
Kedua, kinerja selalu
terkait dengan satu atau lebih tujuan organisasi yang ditentukan oleh
organisasi yang mana kinerjanya dianalisa. Oleh karenanya, suatu organisasi
mengevaluasi kinerjanya berdasarkan pada tujuan dan target yang ditentukan dan
diterima secara internal dan bukannya atas target yang digunakan oleh entitas
di luar dirinya.
Ketiga, kinerja disaring
menjadi karakteristik yang relevan dan bisa dikenali.
Suatu organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan organisasi. Pencapaian
tujuan organisasi menunjukkan hasil kerja/prestasi organsisasi dan menunjukkan
kinerja organisasi. Hasil kerja organisasi diperoleh dari serangkaian aktivitas
yang dijalankan. Aktivitas tersebut dapat berupa pengelolaan sumberdaya
organisasi maupun proses pelaksanaan kerja yang diperlukan untuk mencapai
tujuan organisasi. Untuk menjamin agar aktivitas tersebut dapat
mencapai hasil yang diharapkan, diperlukan upaya manajemen dalam pelaksanaan
aktivitasnya.
Dengan demikian, hakikat manajemen kinerja adalah bagaimana mengelola
seluruh kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Manajemen kinerja bukannya memberi manfaat kepada organisasi saja tetapi
juga kepada manajer dan individu. Bagi organisasi, manfaat manajemen kinerja
adalah menyesuaikan tujuan organisasi dengan tujuan tim dan individu,
memperbaiki kinerja , memotivasi pekerja, meningkatkan komitmen, mendukung
nilai-nilai inti, memperbaiki proses pelatihan dan pengembangan, meningkatkan
dasar ketrampilan, mengusahakan perbaikan dan pengembangan berkelanjutan,
mengusahakan basis perencanaan karier, membantu menahan pekerja terampil
agar tidak pindah, mendukung inisiatif kualitas total dan pelayanan pelanggan,
mendukung program perubahan budaya.
Bagi manajer, manfaat manajemen kinerja antara lain: mengupayakan
klarifikasi kinerja dan harapan perilaku, menawarkan peluang menggunakan waktu
secara berkualitas, memperbaiki kinerja tim dan individual, mengusahakan
penghargaan nonfinansial pada staf, membantu karyawan yang kinerjanya rendah,
digunakan untuk mengembangkan individu, mendukung kepemimpinan, proses motivasi
dan pengembangan tim, mengusahakan kerangka kerja untuk meninjau ulang kinerja
dan tingkat kompensasi.
Bagi individu, manfaat manajemen kinerja antara lain dalam bentuk:
memperjelas peran dan tujuan, mendorong dan mendukung untuk tampil baik,
membantu pengembangan kemampuan dan kinerja, peluang menggunakan waktu secara
berkualitas, dasar objektivitas dan kejujuran untuk mengukur kinerja, dan
memformulasi tujuan dan rencana perbaikan cara bekerja dikelola dan dijalankan.
Menurut Costello (1994) manajemen kinerja mendukung tujuan menyeluruh
organisasi dengan mengaitkan pekerjaan dari setiap pekerja dan manajer pada
misi keseluruhan dari unit kerjanya. Seberapa baik kita mengelola kinerja
bawahan akan secara langsung mempengaruhi tidak saja kinerja
masing-masing pekerja secara individu dan unit kerjanya, tetapi juga kinerja
seluruh organisasi.
Apabila pekerja telah memahami tentang apa yang diharapkan dari
mereka dan mendapat dukungan yang diperlukan untuk memberikan kontribusi pada
organisasi secara efisien dan produktif, pemahaman akan tujuan , harga diri dan
motivasinya akan meningkat. Dengan demikian, manajemen kinerja memerlukan
kerja sama, saling pengertian dan komunikasi secara terbuka antara atasan dan
bawahan.
Proses manajemen kinerja
dilihat sebagai suatu rangkaian aktivitas yang dilakukan secara berurutan agar
dapat mencapai hasil yang diharapkan. Urutan manajemen kinerja oleh Armstrong
dan Baron digambarkan sbb:
Misi
Organisasi dan Tujuan Strategis; merupakan titik awal proses manajemen
kinerja. Misi dan tujuan strategis dijadikan acuan bagi tingkatan manajemen di
bawahnya. Perumusan misi dan tujuan strategis organisasi ditujukan untuk
memastikan bahwa setiap kegiatan selanjutnya harus sejalan dengan tujuan
tersebut dan diharapkan dapat memberikan kontribusi pada prestasi.
Rencana
dan Tujuan Bisnis dan Departemen; merupakan penjabaran dari
misi organisasi dan tujuan strategis. Pada kasus tertentu rencana dan tujuan
bisnis ditetapkan lebih dahualu, kemudian dijabarkan dan dibebankan pada
departemen yang mendukungnya. Sebaliknya, dapat juga terjadi bahwa kemampuan
departemen menjadi faktor pembatas dalam menentapkan rencana dan tujuan bisnis.
Bila hal ini terjadi, tujuan departemen ditentukan lebih dahulu.
Kesepakatan
Kinerja (Performance Contract/Kontrak Kinerja) dan Pengembangan;
merupakan kesepakatan yang dicapai antara individu dengan manajernya tentang
sasaran dan akuntabilitasnya, biasanya dicapai pada rapat formal. Proses
kesepakatan kinerja menjadi mudah jika kedua pihak menyiapkan pertemuan dengan
mengkaji ulang progres terhadap sasaran yang disetujui. Kontrak kinerja
merupakan dasar untuk mempertimbangkan rencana yang harus dibuat untuk
memperbaiki kinerja. Kontrak kinerja juga menjadi dasar dalam melakukan
penilaian terhadap kinerja bawahan.
Rencana
Kinerja dan Pengembangan; merupakan eksplorasi bersama tentang apa
yang perlu dilakukan dan diketahui individu untuk memperbaiki kinerja dan
mengembangkan ketrampilan dan kompetensinya dan bagaimana manajer dapat
memberikan dukungan dan bimbingan yang diperlukan.
Tindakan
Kerja dan Pengembangan; manajemen kinerja membantu orang untuk siap
bertindak sehingga mereka dapat mencapai hasil seperti yang diharapkan.
Monitoring
dan Umpan Balik berkelanjutan; konsep terpenting dan sering berulang
adalah proses mengelola dan mengembangkan standar kinerja. Dalama hal ini
dibutuhkan sikap keterbukaan, kejujuran, bersifat positif dan terjadinya
komunikasi dua arah antara supervisor dan pekerja sepanjang tahun.
Review
Formal dan Umpan Balik; dalam melakukan review, pimpinan memberi
kesempatan kepada bawahan untuk memberi komentar tentang kepemimpinan. Review
mencakup tentang: pencapaian sasaran, tingkat kompetensi yang dicapai,
kontribusi terhadap nilai-nilai utama, pencapaian pelaksanaan rencana,
pengembangan pribadi, pertimbangan tentang masa depan, perasaan dan aspirasi
tentang pekerjaan, dan komentar terhadap dukungan manajer. Hasil review menjadi
umpan balik bagi kontrak kinerja.
Penilaian
Kinerja Menyeluruh; penilaian dilakukan dengan melihat hasil
atau prestasi kerja. Tingkatan penilaian dapat bervariasi tergantung pada
jenis organisasi dan pekerjaan yang dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar